Mantan Narapidana Bukan “Sampah Masyarakat”

 630 total views,  4 views today

Foto istimewa: Samsurin Ketua OKK MPC Pemuda Pancasila Kota Surabaya

SURABAYA.Indonesia Jaya – Kami akui bahwa Pemuda Pancasila banyak membina mantan narapidana. Makanya itu kami sering disebut kumpulan para preman, ya biar sajalahlah apa kata orang yang tidak suka pada kami, saya anggap mereka tidak tahu tujuan kami membina para anak anak mantan narapidana ini.

Pemuda Pancasila Kota Surabaya adalah organisasi masyarakat yang selama ini banyak melakukan pembinaan kepada para mantan narapidana ,agar dapat berinteraksi kembali dengan masyarakat secara baik setelah mereka selesai masa pidananya.

Berbagai program yang selama ini kami lakukan adalah dengan memberikan bekal pelatihan kepimimpinan dan bela negara bekerjasama dengan TNI -POLRI dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Perlindungan Masyarakat (Bakesbangpol Linmas).

Dan setelah mereka mendapat bekal tersebut tak sedikit dari mereka bisa menjadi tokoh masyarakat di tingkat RT, RW di kelurahannya, dan banyak juga yang bekerja sebagai satuan pengamanan di beberapa perusahaan yang ada di kota surabaya. Bahkan banyak dari mereka juga menjadi pengusaha dan berwira usaha.

Inilah yang kami maksud diantaranya dengan mengamalkan sila ke dua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Perlakukan mereka seperti manusia maka perbuatan mereka akan menjadi manusiawi, jika mereka diperlakukan seperti sampah yang rasakan sendiri baunya akan mencemari kehidupan kita semua, jadi tergantung bagaimana kita menyambut baik setelah mereka lepas dari pembinaan di lapas,” Kata Samsudin selaku Ketua Bidang Organisasi Kaderisasi dan Keanggotaan Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Kota Surabaya.

Kalau pada saat sekarang ini peningkatan gangguan keamanan cenderung ada peningkatan dan ketertiban masyarakat banyak terganggu, tidak bisa dikatakan semua pelakunya adalah para mantan napi yang kemaren mendapatkan assimilasi .

pada saat krisi pandemi virus corona atau covid-19 ini . Banyak orang yang awalnya bekerja dan menjadi pengangguran, ini juga menjadi salah satu faktor orang bisa nekat melakukan kejahatan karena perutnya lapar.

Jadi kami juga memberikan masukan kepada pemerintah agar memperhatikan dampak akibat orang dibatasi pergerakannya , yang biasa mencari nafkah tidak bisa mencari nafkah kebutuhan hidup sehari harinya agar bisa dicukupi kebutuhannya.

Orang bisa melakukan kejahatan terhadap dirinya sendiri seperti bunuh diri, karena stress dan orang juga bisa berbuat kejahatan kepada orang lain karena keadaan yang memaksa akibat lapar.

Sejak di nyatakan surabaya zona merah bulan lalu, kami pemuda pancasila kota surabaya membuka posko dibeberapa kecamatan, dan berkoordinasi dengan muspika untuk menjaga keamanan sekaligus melakukan baksos bagi bagi sembako dan penyemprotan disinfektan,

Kami pemuda pancasila mengantisipasi ketika ada kelangkaan sembako dengan bekerja sama dengan bulog divisi regional surabaya , jadi kejahatan bukan saja orang tidak punya uang , tapi juga ketika mereka tidak bisa mendapatkan bahan pokok untuk kebutuhannya , orang juga akan nekat melakukan penjarahan .

Insya Allah, kami menjamin bahwa mereka mantan narapidana yang dalam pembinaan kami, mereka tidak bakal melakukan kejahatan.” Ujar samsurin (Bledex)

Bagikan berita ini

Recommended For You

About the Author: Ma'sum Af

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!