Farhan Perjuangkan Harapan Nabila Seorang Anak Tukang Kayu

 533 total views,  4 views today

Farhan bersama Khosna anak seorang tukang kayu

Bondowoso,Indonesia Jaya – Sistem zonasi yang berlaku saat ini, sesuai Permendikbud No 51 Tahun 2018 yang mempertimbangkan jarak dari tempat tinggal ke sekolah (zonasi). Sistem yang serentak digelar di seluruh Indonesia membuat banyak anak cerdas kehilangan harapan dan cita citanya.

Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 – 2020 dengan sistem zonasi seakan menjadi pembatasan siswa dalam memilih sekolah favorit di daerah. Sistem tersebut juga diduga menjadi kurang berpihak pada siswa berprestasi yang telah berjuang keras.

Seperti yang disampaikan Farhan, aktifis muda sekaligus jurnalis dari salah satu media Bondowoso menurutnya, SDM seperti kualitas pengajar dan sarana prasarana pendukung kegiatan belajar di kota-kota besar sudah merata. Namun ini di Bondowoso tidak demikian.

“Karena sistem zonasi, maka si anak didik ini terancam tidak bisa masuk ke sekolah yang dicita-citakan. Karena jarak tempat tinggal dan sekolahnya jauh. Karena nilai hanya menjadi pendukung 5 persen untuk menjadi pertimbangan,” ujar Farhan.

Hal ini juga mendapatkan tanggapan dari Mohammad Agam, selaku Ketua JPKP Nasional DPC Bondowoso, yang menyarankan agar penerapan sistem zonasi dipertimbangkan kembali. Setidaknya, hasil nilai ujian bisa juga dipakai pedoman penerimaan siswa baru.

Baca : Dandim Letkol Inf Jadi, S.I.P Berikan Penghargaan Kepada Sertu Mulyadi

“Bilamana anak yang sekolah itu bisa masuk di sekolah (dengan pertimbangan jarak), tetapi juga didukung nilainya namun tidak dapat masuk kesekolah yang memiliki sarana prasarana penunjang yang lengkap sebagai modal anak kelak lanjutkan kuliah sesuai harapan dan cita citanya, terus apa gunanya berjuang untuk ikut Unas dan masih les. Ingat mereka bener bener berjuang untuk mendapatkan nilai terbaik,”

Mohammad Agam Hafidiyanto, SH, Rabu (24/6/20) di Kantor JPKPN DPC Bondowoso
Farhan mencoba memperjuangkan harapan seorang anak tukang kayu yang cukup berbakat, cerdas dan memiliki nilai yang bagus dan dapat dikatakan memenuhi unsur untuk dapat sekolah ke SMA 2 Bondowoso yang dikenal dengan sekolah favorit namun akhirnya terjegal oleh sistem zonasi yang ada lantaran hanya jarak sekolah dengan tempat tinggalnya.

“Nabila Vabilatul Khosna, anak yang memiliki prestasi menonjol yang berasal dari daerah kecamatan Sekarputih berjarak cukup jauh dengan SMA 02 Bondowoso, dan berjuang untuk bisa mendapatkan sekolah favorit dengan dukungan belajar yang baik, namun harapan anak ini pupus sudah,” tutur Farhan.

Farhan berharap, Para Wakil Rakyat Bondowoso, Bupati dan Wakilnya serta Sekda dan Kadikbud Bondowoso dan para elemen masyarakat di Bondowoso dapat membantu memberikan solusi permasalah sistem zonasi mengingat Bondowoso adalah Otonomi daerah yang mungkin dapat memberikan kebijakan tersendiri untuk masa depan generasi cerdas penerus bangsa di Bondowoso ini. ( Rudi )

Bagikan berita ini

Recommended For You

About the Author: Ipin

SELALU MENJADI YANG LEBIH BAIK, ''Kalau Benar Kenapa Harus Takut, Kalau Bersih Kenapa Harus Risih"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!