Devi Menangis di tuntut Dua Tahun Penjara

 104 total views,  4 views today

 

Suasana sidang diruang Cakra
Suasana sidang diruang Cakra

Surabaya, Indonesia Jaya -Terdakwa notaris Devi Chrisnawati menangis saat menyampaikan permohonan keringanan hukuman pada majelis hakim dalam pembelaannya secara lisan atas perkara penipuan 4,3 Miliar rupiah, Setelah dituntut 2 tahun penjara oleh Sabetania Paembonan selaku Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Jatim.

Bagi terdakwa Devi Chrisnawati, tuntutan tersebut dianggapnya terlalu berat sebagaimana yang disampaikan terdakwa telah ada perdamaian dengan pelapor Parlindungan, Juga atas penyampaian pembelaan kuasa hukum Abd Malik dan tim pada Rabu sore (2/12) kemarin di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Notaris yang berkantor di Jalan Pahlawan No 30 Surabaya tersebut, dengan menangis menyampaikan perihal gugatannya terhadap pihak pelapor telah dicabut dan sudah menandatangani perjanjian perdamaian.

“Subyek dan obyek hukum dalam gugatan perdata sama Yang Mulia dengan perkara pidana yang sedang disidangkan kali ini. Maka saya mohon pada Yang Mulia agar jangan diadili lagi pidanannya,” harap Devi memohon pada hakim ketua I ketut dan hakim anggota.

Selain itu, Devi juga menjelaskan selama disidang, dia merasa jiwa dan raganya sakit. Sebab merasa tidak dapat lepas dari jeratan hukum dan tetap ditahan, meski sudah mengajukan Permohonan Kewajiban Penudaan Utang (PKPU) atas perkara yang menjeratnya.

“ Saya mohon kepada majelis hakim dapat mengadili yang seadil-adilnya dan memberikan hukuman yang seringan-ringannya untuk saya,” ujarnya berurai air mata.

Mendengar pembelaan terdakwa seperti itu, Hakim Ketua I Ketut Tirta lantas meminta tanggapan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Bagaimana Bu Jaksa tentang pledoi yang sudah disampaikan apakah tetap pada tuntutan,” tanya Hakim Ketua pada JPU.

“Saya tetap pada tuntutan Yang Mulia. Apabila dua cek tidak bisa dicairkan, maka sudah termasuk tindak pidana penipuan. Pasal 372 bukan merupakan delik aduan, jadi saya menilai tidak bisa dilakukan pencabutan,” jawab JPU Sabetania Paembonan berpangkat melati dua.

Diketahui, Terungkapnya kasus ini berawal dari laporan salah satu korbannya, Parlindungan dan Novian Herbowo asal Kota Surabaya karena merasa ditipu.

Sebab, terdakwa meminjam dana ke korban senilai Rp 4,3 miliar untuk offering letter (OL) atau dana pinjaman talangan perihal persetujuan kredit kepemilikan rumah. Padahal, Offering Letter tersebut fiktif setelah dikroscek di bank.

Terdakwa yang dikenal sebagai notaris, menawarkan offering letter (pinjaman dana talangan) Bank CIMB Niaga. Kemudian korban tergiur dijanjikan keuntungan 3,5 persen sampai 5 persen. Misalnya Rp 5 miliar, korban dapat Rp 250 juta.

Terdakwa lantas memberikan jaminan cek bank ke korban. sesuai keterangan terdakwa, bisa dicairkan bila sampai jangka waktu yang ditentukan uang belum dikembalikan.

Namun saat dicairkan korban, cek tersebut ternyata tidak ada dananya. Setelah jatuh tempo, uang tidak dikembalikan dan saat dicairkan cek dananya tidak mencukupi.

Sebelumnya, Sesuai pengungkapan pihak polisi dari Ditreskrimum Polda Jatim, hingga Juli 2020 sudah ada 15 laporan polisi dengan tersangka yang sama. Dengan nilai kerugian mencapai Rp 65 miliar, Serta hasil pengakuan pelapor rata rata percaya karena jabatan notarisnya ( S nto)

Bagikan berita ini

Recommended For You

About the Author: pemimpin redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!