Sejak SMA Lurah Peneleh Suka Wewangian Arab Saudi

 282 total views,  2 views today

H. Muhammad Khusnul Amin, S.IP., M.Si
H. Muhammad Khusnul Amin, S.IP., M.Si

Surabaya,Indonesia Jaya – Hobi mengoleksi barang tertentu pada dasarnya memang memberikan banyak kenikmatan, entah hal apa yang membuat seseorang dapat menggemari suatu hal dengan penuh fanatisme. Kemudian, dari waktu ke waktu, jumlah barang koleksi minyak, dupa Arab terus bertambah dengan ragam variasi dari Arab saudi.

Hobi dan koleksi Lurah Peneleh M. Khusnul Amin bisa dibilang lain daripada yang lain. Dia mengoleksi gaharu dan parfum dari Arab Saudi. Selain karena sunah rasul, bagi dia, wewangian merupakan media untuk lebih dekat dengan orang lain.
’’Orang yang pernah berhaji atau umrah akan langsung teringat bau-bau seperti ini,’’ ujar Amin.

Serpihan gaharu yang sedikit basah itu pun mengering kena panas dan menjadi arang. Meski begitu, aromanya masih berkeliaran. Makin lama makin tipis dan hilang dari indra pembau. Yang tadi itu Al-Qodi Al Oud namanya,’’ Ucapnya

Baca juga : Kapolda Jatim Meresmikan Monumen Patung Patih Gajah Mada

Dia membuka lagi botol kaca lain yang juga berisi serpihan kayu gaharu yang sedikit basah. Dengan menggunakan pinset, Amin mengambil beberapa potongan kecil dan meletakkannya di tungku elektrik yang telah dibersihkan.

Dari catatannya, dia sudah mengoleksi 25 macam jenis gaharu. Selain Al-Qodi Al Oud, ada Al Oud Al Malaki, Mahjoon Al Musaib, dan Oud al Maqam. Tidak semua berupa serpihan kayu gaharu basah. Ada pula yang lebih kering dan berukuran agak besar. Jenis itu dibakar di atas arang briket berukuran kecil. Tungkunya pun seperti tempat aroma terapi. Saat dibakar, aromanya memang terasa lebih kuat dan asapnya lebih mengepul. Tetapi tidak seperti asap vape.
Kali ini baunya lebih lembut. Agak susah menjelaskan bagaimana bau-bau itu bisa begitu berbeda. Namun, aromanya tetap selaras dengan bau sebelumnya, seolah membawa pikiran terbang jauh ke Timur Tengah. Orang-orang yang akrab dengan bau para habib saat melangsungkan ibadah salawatan pasti mudah mengenalinya.

’’Ini Mabsoos al Ateeq buatan Surrati. Ini terkenal,’’ kata Amin sambil membaca label yang tertera dalam kemasan tersebut Amin bukanlah Jati Wesi, tokoh dalam novel Aroma Karsakarya Dee Lestari. Jati Wesi digambarkan sebagai seorang yang begitu peka dengan aroma dan punya buku catatan khusus bau-bauan beserta struktur penyusun aroma itu. Amin tidak punya buku khusus yang mencatat nama kayu gaharu yang pernah dibeli. Yang dilakukan semata-mata mengikuti para gurunya. Membakar gaharu untuk mendapatkan aroma wewangian juga dilakukan Rasulullah saat Kamis malam. Para anak cucu keturunan nabi juga mengikuti jejak tersebut.

’’Saya suka gaharu dan parfum ini sejak SMA. Ya sekitar 1994-an,’’ ucap Amin yang lahir di Gresik, 24 Desember 1976.

Amin juga tidak pelit meski harga parfum dan gaharu yang dibeli ratusan ribu hingga jutaan. Dia menyiapkan botol-botol kecil seukuran 4 miligram untuk siapa saja yang mau.’’ Tiap sore setelah jam kantor selalu ada yang ke ruangan ini. Minta isi ulang,’’ ungkap Amin. Bahkan, selain menjadi lurah, seorang temannya mengira Amin berjualan minyak wangi. (Ca2)

Bagikan berita ini

Recommended For You

About the Author: Ipin

SELALU MENJADI YANG LEBIH BAIK, ''Kalau Benar Kenapa Harus Takut, Kalau Bersih Kenapa Harus Risih"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *