Surabaya Sejuta Toleransi Bersama Tokoh Agama Dan Kepecayaan

 221 total views,  2 views today

Doa bersama tokoh lintas agama dan kepercayaan
Doa bersama tokoh lintas agama dan kepercayaan

Surabaya,Indonesia Jaya – Surabaya Sejuta Toleransi”, menjadi tema dalam sarasehan yang digelar pada (2/12/20) di Novotel Samator, Surabaya. Acara ini diselenggarakan oleh Ksatria Airlangga Penjaga Pancasila bekerjasama dengan Relawan Banteng Lawas Surabaya dan para pemuka lintas iman dan kepercayaan.

Istilah ‘mayoritas – minoritas’ secara tidak langsung telah menjadi sekat di tengah masyarakat yang beragam ini. Padahal kalau dilihat dari sejarah perjuangan bangsa, kemerdekaan Indonesia diraih berkat perjuangan bersama tanpa melihat perbedaan suku, ras dan agama. Inilah yang ditegaskan Eri Cahyadi yang di daulat sebagai salah satu pembicara di acara tersebut.

Pembicara lain yang dihadirkan dalam sarasehan lintas iman, yaitu K.H. DR. Muhibbin Zuhri, RM., Ketua PC Nahdlatul Ulama Surabaya dan DR. Imam Syaukani dari Muhammadiyah Surabaya. Bertindak sebagai moderator adalah Ronny H. Mustamu. Sedangkan pembicara lain sekaligus penanggap, antara lain Rm. Timotheus Siga (Katolik), I Wayan Suraba (Hindu), Pdt. Andri Purnawan (Kristen), Prof. Dr. Philip K. Wijaya (Buddha), Dr. Otto Bambang Wahyudi (Penghayat Kepercayaan), dan Liem Tiong Yang (Konghucu).

Saat ditanya moderator tentang mimpinya untuk Surabaya, Eri yang saat ini sebagai calon Walikota Surabaya nomer urut satu, memimpikan Surabaya menjadi salah satu contoh kota dengan tingkat toleransi tinggi. Meredam radikal-radikal yang ada di Surabaya dengan cara membangun ahklak di masing-masing agama. Saat ini banyak sekolah yang berbasis agama, sehingga lulusan dari sekolah tersebut seringkali kurang mengenal siswa dari agama yang berbeda. “Kedepan akan dibentuk sebuah wadah sebagai tempat melakukan kegiatan bersama lintas agama mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama hingga Sekolah Menegah Atas,” tutur Eri.

Baca juga : Kapolda Jatim Meminta Doa Restu ke Ponpes Salafiyyah AL- Misbar

Program lain yang dipaparkan Eri dalam rangka toleransi adalah dengan melakukan sosial bersama.“ Setiap umat di tiap agama pasti ada kegiatan sosialnya. Kalau dalam satu tahun tokoh agama bertemu, mereka bisa berbagi dan saling memberi informasi tentang data masyarakat miskin yang membutuhkan bantuan. Data tersebut digabung dengan data pemerintah untuk bergerak bersama tanpa melihat perbedaan suku, ras, maupun agama,” paparnya lebih lanjut.

Pelbagai tanggapan kemudian di lontarkan oleh para tokoh yang mawakili agama masing-masing, antara lain berharap agar pemerintah memperbanyak ruang perjumpaan lintas iman, dapat menciptakan kehidupan beragama yang rukun. Tolerasi bisa direalisasikan dengan cara menanamkannya kepada anak-anak muda tentang beragama yang benar. Toleransi berarti juga mau menghargai dan menghormati agama orang lain.

“Sudah bukan rahasia lagi kalau agama dan politik itu saling memanfaatkan dan menunggangi. Dan orang seringkali lupa bahwa toleransi itu tidak hanya dialamatkan pada entitas atau komunitas yang berbeda, misal Islam dengan Kristen, Kristen dengan Hindu, Hindu dengan Buddha, Konghucu dan sebagainya. Karena sesungguhnya kita di dalam keluarga sendiri itu sudah beragam. Di dalam satu agama, organisasi atau kelompok saja ada banyak keberagaman. Jadi toleransi ini perlu diterima bahwa kita punya pekerjaan rumah untuk mengakui, bahwa dalam keluarga kita sendiri ada keberagaman. Jangan sampai ruang publik dijadikan ruang kontestasi bagi proses belajar toleransi yang tidak tuntas. Misal, Kristen protestas yang beragam aliran itu berkontestasi tidak tuntas, lalu berebut kekuasaan di ruang publik. Radikalisme yang ada di agama itu seringkali tidak mampu memenangkan kontestasi dalam komunitas lalu memakai politik supaya punya akses kekuasaan. Agama itu tidak punya hak prerogatif untuk mengintervensi perubahan hukum di Indonesia. Karena itu di Surabaya jangan sampai ada bahasa-bahasa agama tertentu yang mendominasi, karena agama tidak punya hak untuk mengintervensi negara dan pemerintahan. Sebaliknya, pemerintah juga tidak punya hak untuk meng-obok-obok agama,” sekelumit pesan tentang toleransi yang disampaikan Andri Purnawan, pendeta GKI Darmo Satelit Surabaya.

Baca lainnya : Safari Sholawat PAC IPNU IPPNU Mulyorejo

Di sarasehan tersebut dibacakan pula Deklarasi Pilkada Damai yang isinya, kami para tokoh agama, penghayat kepercayaan dan warga Kota Surabaya bersepakat agar dalam menyikapi Pilkada Kota Surabaya 2020 dapat: 1. Mendorong agar semua warga berpartisipasi dalam pilkada untuk tanggal 9 Desember 2020; 2. Mendorong semua pihak untuk menjaga dan merawat kebhinnekaan yang menadi ciri khas Kota Surabaya; 3. Mendorong semua pihak untuk menjaga ketertiban dan kedamaian Kota Surabaya; 4. Mendorong semua pasangan calon dan pendukungnya untuk bersaing secara jujur dan adil agar tercipta pilkada damai; 5. Mendorong semua pasangan calon dan para pendukungnya agar berprinsip: Siap menang dan siap kalah.

Mengakhiri acara tersebut, diadakan doa bersama lintas agama. Dari Islam diwakili Muhibin Zuhri, Kristen diwakili Pdt. Simon Filantropha, Katolik diwakili Rm Timotheus Siga, Hindu diwakili I Wayan Suraba, Buddha diwakili Iwan Ponto, Penghayat Kepercayaan diwakili Otto Bambang Wahyudi, dan Konghucu diwakili Liem Tiong Yang. (LTY)

Bagikan berita ini

Recommended For You

About the Author: Ipin

SELALU MENJADI YANG LEBIH BAIK, ''Kalau Benar Kenapa Harus Takut, Kalau Bersih Kenapa Harus Risih"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!