Program FBK 2020, Gelar Tradisi Ruwatan “Gamelan Sekenyar” Ritual Turun Temurun

 131 total views,  4 views today

 

Saat Prosesi Ruwatan Gong
Saat Prosesi Ruwatan Gong

Bondowoso, Indonesia Jaya – Melalui Kementrian Kebudayaan, dalam Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan(FBK) 2020, Pemerintah Bondowoso bersama SKPD Kec. Sumber Bringin menggelar Ruwatan ” Gamelan Sekenyar”, Beberapa orang berpakaian adat berdiri di dekat pintu. Mereka tengah menunggu tetua desa untuk memulai prosesi ruwat gamelan. Beberapa menit kemudian, ketua desa yang diwakili oleh bapak kepala desa datang. Ritual pun dimulai. Diawali dengan pembacaan mamacah, lalu penyiraman sepasang Gong dan beberapa gamelan. Lalu ditutup dengan doa dan pembagian air hasil siraman yang diyakini oleh sebagian besar masyarakat memiliki tuah. Demikian proses ruwat Gamelan Sekenyar, sebuah peninggalan budaya di desa Tegal Jati, Sumber Wringin, Bondowoso.

Prosesi ruwat gamelan yang dikemas sedikit dramatikal ini adalah acara tahunan yang sudah berlangsung turun temurun. Acara kali ini diselenggarakan berkat dukungan kepala desa Tegal Jati, perangkat desa, dengan bekerja sama dengan Sanggar Seni dan Budaya 3A, sebuah kelompok kesenian di Kota Bondowoso. Untuk ruwat gamelan di tahun ini, diselenggarakan bertepatan dengan rangkaian acara lain di beberapa desa dengan tajuk Slametan Bumi Raung yang berlangsung dua bulan sejak September sampai Oktober. Slametan Bumi Raung sendiri merupakan acara tahunan di 7 desa di kecamatan Sumber Wringin. Dengan masing-masing desa menampilkan kekayaan tradisinya berkaitan dengan pertanian yang apabila diskemakan secara utuh, acara ini menggambarkan prosesi bertani yang selama ini dijalankan oleh sebagian masyarakat Bondowoso. Mulai dari prosesi pembuatan alat pertanian, meruwat sumber air, hingga tasyakuran hasil panen.

Gamelan se kenyar merupakan nama sepasang gong yang dikenal sakral dan diyakini memiliki tuah oleh sebagian besar masyarakat Tegal Jati. Konon, gamelan ini ditemukan oleh Buju’ Sanur di tengah persawahan di saat ia sedang membajak sawahnya. Menariknya, gamelan ini ditemukan berkat petunjuk dari kerbau yang ia gunakan untuk membajak. Gamelan ini kemudian diwariskan kepada anak turunannya. Penjaga gamelan saat ini adalah generasi keempat dari keturunan Buju’ Sanur.

Ada banyak cerita unik di sekitar gamelan Sekenyar ini yang dipercayai kebenarannya oleh masyarakat. Seperti larangan memukul sembarangan karena nyaringnya bunyi gamelan bisa terdengar sampai jarak ratusan kilometer. Atau bunyinya yang nyaring bisa berakibat gugurnya kandungan perempuan yang tengah hamil ketika itu. Dan banyak lagi cerita-cerita unik lainnya.

Acara ruwat gamelan Sekenyar yang diiringi penabuhan ini menjadi simbol pengharapan untuk keselamatan bumi, terutama lahan pertanian. Bunyi tabuhan diibaratkan dengan bunyi-bunyian yang biasa dibuat oleh petani untuk mengusir burung-burung di sawah. Tabuhan gamelan ini juga simbol rasa syukur dari petani untuk hasil pertanian yang melimpah. Seperti pada umumnya pesta tasyakuran hasil pertanian yang disemarakkan dengan bunyi tabuhan-tabuhan gamelan. Bagi sebagian besar masyarakat, acara semacam ini seperti alarm pengingat bahwa ada warisan-warisan leluhur yang harus dijaga dan terus dirawat. Dan Sanggar 3A, berhasil menghadirkan alarm itu di tengah-tengah mereka.(Sanggar Seni Budaya 3A Bondowoso)
(Ekojhalu).

Bagikan berita ini

Recommended For You

About the Author: pemimpin redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!