Dua Wanita Petani Lansia Di Intimidasi Serta Di aniaya Oleh Tetangganya Sendiri

 174 total views,  4 views today

 

Biro Hukum LKPK Saat Mendampingi
Biro Hukum LS dan RS saat Mendampingi korban penganiayaan

SAMPANG, Indonesia Jaya – Nasib naas yang di alami dua orang wanita lanjut usia (lansia) pekerjaan sehari harinya sebagai petani, yakni sebut saja inisial LS (50) dan RS (64) warga asal Dusun Pelalangan Desa Gunung Maddah Kecamatan Sampang Kabupaten Sampang mengalami luka lebam akibat mendapatkan perlakuan kekerasan (penganiayan) yang dilakukan oleh tetangganya sendiri berinisial MR.

Saat awak media mengklarifikasi RS,korban penganiayaan tersebut memaparkan, bila pihak nya berharap suatu hari ada etikad baik dari MR untuk minta maaf, Senin (18/01/2021) pukul 11.30 wib

“Sebenarnya kami dan keluarga agar masalah ini bisa di selesaikan secara kekeluargaan, Namun sampai satu hari sekeluarga menunggu MR tak kunjung datang datang, akhirnya kami sekeluarga melaporkan ke pihak yang berwajib (Polisi), “ujar RS.

Masih kata RS, “kejadian itu terjadi di warung Simpang 3 Tengah jalan Dusun Bangian. Saya di seret dari atas sepeda motor oleh MR, kemudian saya di dorong sampai 4 kali dan jatuh ke bawah yang ada batunya serta di air yang becek, “ungkapnya.

“Kemudian saya di suruh makan nasi dan anak prempuan saya tanya ke MR. Kamu apakan orang tua saya, tapi MR dengan tegas menjawab “biarkan walaupun mati”, Akibat kejadian itu saya tidak bisa bekerja lagi selama 20 hari, “jelas RS
Sementara itu kuasa hukum RS dan LS, Nata Saeha Saputra, SH saat mendatangi RSUD Dr Mohammad Zyn untuk meminta hasil dari visum korban penganiyaan hanya di temui oleh salah satu staff Rumah Sakit, Senin (18/01/2021) pukul 14.00 wib.

“Maaf pak untuk hasil visum pihak kami tidak bisa memberikan, kecuali bapak membawa surat yang legal dan surat kuasa keluarga serta kunci untuk menyimpan berkas ketlisut (lupa) naruhnya, “ujar Nata Saeha Saputra SH saat menirukan gestur dari salah satu staff RSUD Dr Muhammad Zyn.

Pengacara yang santai lugas dan juga tegas merasa kecewa atas jawaban yang di berikan oleh staff Rumah Sakit yang di nilai kurang fleksibel dan logis.“Saya sangat kecewa dengan jawaban yang di berikan dari pihak Rumah Sakit, katanya juga dengan alasan pandemi Covid-19 jam kerjanya di buat shiff (Rolling), “ungkap Saeha sapaan karibnya.

Masih kata Saeha, “kalau memang pandemi Covid-19 yang di jadikan alasan, se etisnya pihak Rumah Sakit harus di tata yang rapi atau sefleksibel mungkin dari awal. Sebenarnya ini bukan Tindak Pidana Ringan (TIPIRING) tapi sudah kasus kriminal, karena dari MR sudah melakukan penganiyaan yang menimbulkan luka dan apalagi ada kata kata dari si pelaku mengucapkan “biarkan saja walaupun mati”, “pungkasnya. (Red)

Bagikan berita ini

Recommended For You

About the Author: pemimpin redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!