Persoalan SPBU Reo Rencana Dibawa Ke DPRD, Yoakim Menyambut Baik

 426 total views,  4 views today

 

Anggota DPRD Kabupaten Manggarai Dapil Cibal-Reok, Yoakim Yohanes Jehati
Anggota DPRD Kabupaten Manggarai Dapil Cibal-Reok, Yoakim Yohanes Jehati

Ruteng, Indonesia Jaya – Persoalan internal keluarga pemegang saham di SPBU Reo rupanya belum menemui titik terang.

Hingga saat ini pihak Polres Manggarai masih memediasi persoalan tersebut. Namun karena keegoan dari salah satu pihak persoalan itu pun belum dapat diselesaikan melalui jalur mediasi.

Pengacara Kumpul Bersaudara, Asis De Ornay berencana membawa persoalan ini ke Lembaga DPRD Manggarai agar bisa memanggil para pihak yang bersengketa untuk menempuh upaya damai atau upaya-upaya lain yang dianggap perlu demi menyelesaikan persoalan itu.

“DPR kan wakil rakyat. Mereka pasti bisa menyelesaikan persoalan apalagi persoalan ini sudah berimbas pada penutupan SPBU yang membuat masyarakat sulit mendapatkan BBM kurang lebih dua bulan belakangan. Ini juga peran ADPRD” tutur Asis

Dia pun meyakini bahwa DPRD sebagai lembaga representasi rakyat bisa menyelesaikan persoalan tersebut sampai kedua belah pihak kembali bersatu.

Menanggapi itu, Anggota DPRD Kabupaten Manggarai, Yoakim Yohanes Jehati mengapresiasi upaya yang diambil oleh Pengacara dengan cara membawa masalah ini ke Lembaga DPRD.

“Kami menyambut baik upaya itu. Hal ini tentu merupakan sebuah penghormatan sekaligus tantangan baru bagi Saya dan teman-teman di Daerah Pemilihan Cibal-Reok” kata Yoakim menjawab indonesiajaya.com saat dihubungi melalui pesan WhatsApp.

Dikatakan Yoakim bahwa secara kelembagaan DPRD tentu mempelajari soal, sebab masalah SPBU Reo ini merupakan masalah internal keluarga yang sudah berdampak ke masyarakat banyak terkait kebutuhan BBM.

“Selain masalah internal keluarga, hal ini juga merupakan masalah rakyat sehingga Saya pun menaruh rasa hormat dan siap duduk bersama untuk mendapatkan solusi terbaik dari persoalan ini” tutur Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Manggarai itu.

Yoakim pun menegaskan bahwa apapun persoalan yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak maka hukum tertingginya adalah mengutamakan kepentingan rakyat. Oleh karena itu masalah internal SPBU Reo harus cepat diselesaikan agar masyarakat tidak jadi korban.

“Sekali lagi apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pengacara dan Keluarga yang berencana membawa masalah ini ke DPRD sehingga Kita bisa duduk semeja memberi pikiran untuk kebaikan bersama, baik internal pihak yang bersengketa maupun kepentingan masyarakat banyak” tutup mantan Ketua GMNI Cabang Manggarai itu.

Seperti diberitakan sebelumnya bahwa SPBU Reo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, NTT ditutup sejak dua bulan lalu.

SPBU ini tak lagi melayani pembelian BBM bersubsidi untuk Masyarakat lantaran dipicu masalah internal keluarga pemegang saham yang hingga saat ini belum menemui titik terang.

Masalah internal tersebut melibatkan dua kubu, yakni Krispiani Kumpul dan 6 orang saudara kandungnya

Dalam status keluarga, Krispiani merupakan anak bungsu dari keluarga “Kumpul Bersaudara” yang didalamnya ada 7 orang anak. Sedangkan 6 orang lainnya berstatus Kakak kandung Krispiani.

Pengacara Kumpul Bersaudara, Asis De Ornay saat dihubungi indonesiajaya.com menjelaskan bahwa masalah internal keluarga tersebut berawal dari munculnya Akta yang berbeda antara Akta yang diterbitkan oleh Krispiani Kumpul dan Akta yang dipegang oleh 6 orang saudaranya. Akta tersebut berkaitan dengan hak kepemilikan saham dan aset SPBU Reo.

“Krispiani menerbitkan Akta baru tahun 2015 sedangkan 6 orang saudaranya masih memegang Akta tahun 2011. Krispiani mengklaim bahwa saham dan aset SPBU Reo adalah miliknya berdasarkan Akta baru tahun 2015 yang diterbitkannya, sedangkan 6 orang saudaranya tetap mempertahankan bahwa saham dan aset SPBU Reo masih milik Kumpul Bersaudara berdasarkan Akta tahun 2011 yang dipakai sejak awal pembangunan SPBU Reo itu” jelas Asis.

Saat ini, kata Asis, masalah tersebut sedang dimediasi oleh pihak Polres Manggarai dan Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Bupati namun gagal karena si bungsu Krispiani Kumpul terlalu ngotot dan mempertahankan keegoannya untuk mengolah sendiri SPBU Reo tanpa melibatkan 6 orang saudaranya.nya

“Masih dalam upaya non litigasi. Kemarin pihak Polres mencoba memediasi namun Krispiani tetap ego” ungkap Asis

Asis pun mengaku bahwa pihaknya sedang berupaya membawa masalah ini ke DPRD agar mereka bisa memanggil pihak yang bersengketa untuk menempuh jalur damai. Tetapi jika semua upaya sudah mentok Saya akan kembalikan ke keluarga Kumpul Bersaudara untuk meminta persetujuan apakah sengketa saham dan aset SPBU Reo digugat ke Pengadilan atau tidak.

Untuk diketahui semenjak munculnya masalah internal keluarga pemegang saham, SPBU Reo yang berlokasi di jalan Reo – Kedindi tepatnya di Lingkungan Kedutu, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok itu tak lagi beroperasi seperti biasa. Di depan SPBU terpajang papan plang bertuliskan “SPBU Ini Dalam Pengawasan”

Akibat penutupan SPBU itu para nelayan, petani, pengemudi, pengusaha serta masyarakat Reok dan sekitarnya tak lagi mendapatkan BBM bensin dan bio solar. Bahkan para nelayan nyaris tak melaut akibat sulitnya mendapatkan BBM.

Tak hanya itu pada tanggal 28 Nopember 2020 lalu para pengemudi sempat melakukan pemblokiran jalan raya karena kesal dengan SPBU yang tak lagi menyalurkan BBM. Beruntung aksi spontanitas para pengemudi cepat diamankan oleh anggota Polsek Reo dan Koramil 1612-03 Reok yang bergegas ke lokasi hari itu juga. (Berto Davids)

Bagikan berita ini

Recommended For You

About the Author: pemimpin redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!