Detik- detik Santri Pondok Pesantren Terseret Arus, Ustad Baharudin : Seperti Ada Yang Panggil Ke Sungai

 504 total views,  2 views today

 

Kepala Asrama Santri Pondok Pesantren Pancasila Reo, Ustad Baharudin, S.Pd.I,
Kepala Asrama Santri Pondok Pesantren Pancasila Reo, Ustad Baharudin, S.Pd.I

Ruteng, Indonesia Jaya – Rabu tanggal 3 Februari 2021 sekitar pukul 16.30 Wita. Seperti biasanya Ustad Baharudin melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya mengawasi aktivitas para Santri, baik yang belajar maupun yang bermain.

Ustad Baharudin merupakan Kepala Asrama sekaligus Guru para Santri di Pondok Pesantren Pancasila Reo yang terletak di Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, NTT.

Sebagai Kepala Asrama dan Guru ia tak pernah bosan menjalani kewajibannya yang sudah lama ia lakoni. Mulai berangkat ke sekolah kemudian pulang. Tak hanya itu sholat dhuhur pun tak lupa ia jalani sembari mengawasi para santri.

Ustad Baharudin tak ingin nasib anak asramanya berakhir dengan tenggelam. Tetapi ingin anaknya tetap hidup dan bersekolah mengejar nasib yang baik.

Ditemui di Pondok Pesantren Ustad Baharudin mengisahkan bahwa pada sore itu pukul 17.00 Wita para santri harus menjalani shalat maghrib. Sebelum shalat para santri diwajibkan untuk membersihkan tubuh dengan wudhu atau mandi.

Menurut Ustad Baharudin, pihaknya sudah menyediakan tempat mandi bagi para santri, yakni kamar mandi dan juga air ledeng. Sarana itu disiapkan oleh Pondok Pesantren untuk para santri yang ingin mandi atau membersihkan tubuh sebelum shalat sehingga mandi di sungai bukan rutinitas yang diwajibkan karena Pondok memang sudah menyediakan tempat mandi. Tetapi pada hari itu 4 orang santri lebih memilih mandi di sungai Waepesi yang letaknya tidak jauh dari Pondok.

Ustad Baharudin mengaku sebelum para santri berangkat dirinya sudah wanti-wanti dan mengingatkan para santri agar berhati-hati pasalnya sungai itu terkenal rawan.

“Saya sudah ingatkan mereka untuk berhati-hati sebab sungai itu rawan” tuturnya berkisah.

Lebih lanjut ia juga mengisahkan pengakuan dari salah seorang santri yang selamat dari musibah itu. Menurut santri itu dirinya merasa seperti ada panggilan yang menyuruh mereka harus mandi di sungai.

“Seperti ada panggilan dari sungai yang menyuruh Kami untuk mandi disitu” ungkap Ustad Baharudin meniru pengakuan salah seorang santri.

Ustad Baharudin pun meyakini bahwa panggilan itu lah yang membuat para santri ingin mandi di sungai sebelum pada akhirnya satu orang terseret arus deras.

Dia juga berharap agar para Tim SAR dapat menemukan kembali mayat santri yang terseret arus itu. Untuk sementara aktivitas belajar mengajar di Pondok Pesantren Pancasila Reo sengaja diberhentikan untuk batas waktu yang belum ditentukan.

Seperti diberitakan sebelumnya bahwa nasib tragis menimpa seorang Santri Pondok Pesantren Pancasila Reo, Kelurahan Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berinisial SARK (13)

SARK dikabarkan terbawa arus Sungai Waepesi pada Rabu 3 Februari 2021 sekitar pukul 17.20 Wita.

Kapolsek Reo, Ipda Agustian Sura Pratama, S.Trk kepada Wartawan menyampaikan bahwa kejadian tersebut bermula saat korban SARK bersama rekannya mandi di Sungai Waepesi sebelum melaksanakan sholat maghrib.

Sungai Waepesi yang menjadi tempat mandi korban SARK dan rekannya itu, kata Agustian, terletak persis dibelakang Pondok Pesantren Pancasila Reo.

Saat sedang mandi, katanya lagi, korban SARK bersama rekannya memegang seutas tali nilon yang terikat pada tiang tangga. Tali itu diduga digunakan untuk main lompat-lompatan.

“Saat sedang main seutas tali nilon itu pun terlepas hingga membuat korban SARK bersama rekannya jatuh dan terbawa arus Sungai Waepesi” tutur Agustian.

Pada saat kejadian itu, tuturnya lagi, korban SARK sempat berpegangan tangan dengan salah satu rekannya tetapi karena derasnya arus Sungai Waepesi tangan keduanya terlepas dan satu rekannya berusaha berenang ke tepi sedangkan korban SARK terbawa arus.

Salah satu rekan SARK juga sempat ditolong oleh Saudara Ahmad Madi yang kebetulan melintas menggunakan perahu di lokasi kejadian.

Dari peristiwa tersebut pihaknya berhasil mengumpulkan para saksi-saksi.

Saksi tersebut merupakan rekan mandi korban SARK, yakni diantaranya:

1. Muhamad Putera Mansah (12)

2. Syabillylah Muhamad Yakub (13)

3. Salimun Hafis (13)

4. Muhamad Al Fatir (13)

Hingga saat ini Kapolsek Reo, Ipda Agustian Sura Pratama bersama anggota dan Sat Pol Air masih melakukan pencarian korban. (Berto Davids)

Bagikan berita ini

Recommended For You

About the Author: pemimpin redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!